Sering Lelah hingga Kaki Bengkak? Kenali 10 Tanda Awal Gangguan Ginjal

Kesehatan6 Dilihat

Gangguan ginjal kerap berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Bahkan, sejumlah tanda yang muncul sering kali menyerupai keluhan kesehatan sehari-hari, seperti tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan frekuensi buang air kecil.

Meski terlihat ringan, perubahan pada tubuh sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika seseorang memiliki faktor risiko penyakit ginjal.

National Kidney Foundation (NKF) menjelaskan bahwa banyak penderita penyakit ginjal tidak menyadari kondisinya karena gejala sering kali baru muncul ketika fungsi ginjal telah mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Untuk mengetahui kondisi ginjal, pemeriksaan darah dan urine menjadi langkah penting, khususnya bagi orang yang memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, atau berusia di atas 60 tahun.

10 Tanda Awal Gangguan Ginjal yang Perlu Diwaspadai

Sejumlah perubahan pada tubuh dapat berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal. Berikut 10 tanda yang perlu dikenali.

1. Tubuh Mudah Lelah

Rasa lelah yang berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal. Ketika kemampuan ginjal menyaring darah menurun, zat sisa dapat menumpuk di dalam tubuh dan memengaruhi kondisi fisik.

Selain itu, penyakit ginjal dapat menyebabkan anemia yang membuat tubuh terasa lemah, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi.

2. Mengalami Gangguan Tidur

Kesulitan tidur juga dapat dialami oleh penderita penyakit ginjal kronis. Kondisi ini dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk perubahan metabolisme tubuh dan gangguan kesehatan lain yang menyertai penyakit ginjal.

Pada sebagian orang, gangguan tidur dapat berupa sleep apnea, yaitu kondisi ketika pernapasan berulang kali terhenti sementara saat tidur.

3. Kulit Kering dan Terasa Gatal

Ginjal berperan menjaga keseimbangan cairan, mineral, dan zat sisa di dalam tubuh. Ketika fungsinya menurun, ketidakseimbangan mineral dan penumpukan zat sisa dapat memicu kulit kering serta rasa gatal.

Keluhan ini lebih sering ditemukan pada penyakit ginjal kronis stadium lanjut, sehingga tidak selalu menjadi tanda awal gangguan ginjal.

4. Lebih Sering Buang Air Kecil

Perubahan pola buang air kecil, terutama meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari, dapat berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal.

Kerusakan ginjal dapat mengurangi kemampuan organ tersebut dalam memekatkan urine. Akibatnya, seseorang mungkin merasa lebih sering ingin buang air kecil.

Namun, keluhan ini juga dapat disebabkan oleh infeksi saluran kemih, diabetes, pembesaran prostat pada pria, atau kondisi lainnya.

5. Urine Mengandung Darah

Ginjal yang sehat menyaring darah dan membuang zat sisa melalui urine tanpa membiarkan sel darah keluar dalam jumlah yang tidak semestinya.

Apabila urine terlihat kemerahan atau kecokelatan akibat darah, kondisi tersebut perlu diperiksa oleh tenaga medis. Darah dalam urine dapat berkaitan dengan gangguan ginjal, tetapi juga bisa disebabkan oleh batu ginjal, infeksi saluran kemih, atau masalah kesehatan lainnya.

Karena itu, urine berdarah tidak boleh dianggap sebagai tanda pasti gagal ginjal, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.

6. Urine Tampak Berbusa

Urine yang berbusa sesekali belum tentu menunjukkan adanya penyakit. Namun, busa yang berlebihan, berulang, atau tidak mudah menghilang dapat mengindikasikan adanya protein dalam urine.

Salah satu protein yang dapat ditemukan dalam urine adalah albumin. Jika penyaring ginjal mengalami kerusakan, albumin dapat bocor ke urine. Kondisi ini dikenal sebagai albuminuria dan dapat menjadi salah satu tanda gangguan ginjal.

Pemeriksaan urine diperlukan untuk memastikan apakah busa tersebut berkaitan dengan kebocoran protein.

7. Mata Terlihat Sembap

Pembengkakan di sekitar mata, terutama ketika bangun tidur, dapat berkaitan dengan penumpukan cairan atau kehilangan protein melalui urine.

Apabila ginjal membiarkan terlalu banyak protein keluar bersama urine, cairan dapat lebih mudah menumpuk di jaringan tubuh, termasuk area sekitar mata.

Meski demikian, mata sembap juga dapat dipengaruhi oleh kurang tidur, alergi, dan berbagai kondisi lainnya.

8. Kaki dan Pergelangan Kaki Membengkak

Penurunan fungsi ginjal dapat mengganggu kemampuan tubuh membuang kelebihan natrium dan cairan. Akibatnya, cairan dapat menumpuk dan menyebabkan pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau bagian tubuh lainnya.

Pembengkakan yang menetap atau disertai keluhan lain sebaiknya diperiksakan. Sebab, gejala serupa juga dapat berkaitan dengan penyakit jantung, penyakit hati, atau gangguan pembuluh darah.

9. Nafsu Makan Menurun

Penurunan fungsi ginjal dapat menyebabkan penumpukan zat sisa dalam tubuh yang memengaruhi nafsu makan.

Pada kondisi penyakit ginjal yang lebih berat, penderita juga dapat mengalami mual, muntah, atau perubahan indra pengecap sehingga makanan terasa berbeda dari biasanya.

Jika nafsu makan terus menurun tanpa penyebab yang jelas, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui faktor yang mendasarinya.

10. Kram atau Kejang Otot

Gangguan fungsi ginjal dapat memengaruhi keseimbangan elektrolit dan mineral, termasuk kalsium serta fosfor. Perubahan tersebut dapat memicu kram atau kejang otot pada sebagian penderita.

Namun, kram otot juga dapat disebabkan oleh dehidrasi, aktivitas fisik berlebihan, atau faktor lain. Oleh karena itu, keluhan ini perlu dinilai bersama gejala dan kondisi kesehatan lainnya.

Gejala Bisa Muncul Saat Fungsi Ginjal Menurun Berat

Penyakit ginjal kronis pada tahap awal sering tidak menimbulkan keluhan yang mudah dikenali. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa ketika fungsi ginjal menurun secara signifikan, penderita dapat mengalami kelelahan berat, mual, muntah, kebingungan, pembengkakan, kulit gatal, kram otot, hingga perubahan jumlah urine.

Sementara itu, gagal ginjal akut dapat berkembang dalam hitungan jam atau hari. Penurunan jumlah urine secara tiba-tiba merupakan salah satu tanda yang perlu mendapat perhatian segera, terutama jika disertai pembengkakan, sesak napas, atau kondisi tubuh yang memburuk.

Meski demikian, gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami gagal ginjal. Diagnosis harus dilakukan melalui pemeriksaan medis.

Dua Pemeriksaan Penting untuk Mengetahui Kondisi Ginjal

National Kidney Foundation menyoroti pentingnya pemeriksaan darah dan urine untuk mendeteksi gangguan ginjal, termasuk pada orang yang belum mengalami gejala.

Dua pemeriksaan yang umum digunakan meliputi:

  • eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate): pemeriksaan yang memperkirakan kemampuan ginjal menyaring darah berdasarkan hasil pemeriksaan darah, terutama kadar kreatinin, serta faktor lain yang relevan.
  • uACR (urine Albumin-to-Creatinine Ratio): pemeriksaan urine untuk mengukur perbandingan kadar albumin dengan kreatinin guna mendeteksi kebocoran protein.

Dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan kreatinin dan urea dalam darah, analisis urine, serta USG ginjal sesuai dengan gejala dan kondisi pasien.

Hasil pemeriksaan tersebut membantu dokter menilai fungsi ginjal dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

Siapa yang Perlu Memeriksakan Fungsi Ginjal?

Orang dengan diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, penyakit jantung, atau riwayat keluarga dengan penyakit ginjal memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ginjal.

Risiko juga meningkat seiring bertambahnya usia. Karena itu, orang yang memiliki faktor risiko sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai kebutuhan dan frekuensi pemeriksaan fungsi ginjal, meskipun belum merasakan keluhan.

Jangan menunggu hingga gejala menjadi berat untuk memeriksakan diri. Deteksi dini dapat membantu dokter menentukan penanganan yang tepat dan memperlambat perkembangan penyakit ginjal pada banyak kasus.

Segera cari pertolongan medis apabila jumlah urine tiba-tiba berkurang drastis, terutama jika disertai pembengkakan, sesak napas, kebingungan, atau kondisi kesehatan yang memburuk.

Pada akhirnya, gangguan ginjal tidak selalu menunjukkan tanda yang jelas pada tahap awal. Mengenali perubahan tubuh, mengendalikan faktor risiko, dan melakukan pemeriksaan sesuai anjuran tenaga medis merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan ginjal serta mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *